Jumat, 23 April 2010

Belasan Penambang Liar Nekat Beroperasi Di Sungai Sepuri


Kulonprogo – Belasan penambang yang nekat beroperasi di sungai Sepuri Nanggulan terjaring operasi rutin yang digelar Sat Pol PP, kemarin. Tidak ada pekerjaan lain yang bias diandalkan untuk menghidupi keluarga membuat para penambang nekat meski Sungai Sepuri resmi dinyatakan tertutup untuk aktivitas pertambangan sejak Jumat (9/4) kemarin.

Menurut Kepala Seksi Pengendalian Operasi (Kasi Dal Ops) Sat Pol PP Kulonprogo Sukaryono, kegiatan pertambangan ilegal ini melanggar perda nomor 6 tahun 2002 dengan sanksi tiga bulan penjara atau denda Rp 5 juta.

“Namun bagi para penambang yang terjaring ini hanya diberi peringatan saja. Selain itu mereka juga kami himbau agar mengurus perijinannya. Jika ijin sudah memegang ijin, maka penambang nantinya akan mendapat daftar lokasi mana saja yang diperbolehkan untuk ditambang” terang Sukaryono.
Salah seorang penambang, Sugiyo (59) warga Tanjungharjo Nanggulan mengatakan dirinya bersama dengan penambang lain berpenghasilan rata-rata sekitar Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu setiap harinya dari hasil menambang material (pasir dan batu, red) di Sungai Sepuri.

“Sungguh kami tak paham kalau aktivitas pertambangan ini merusak lingkungan. Yang kami tahu, kami menambang untuk menafkahi keluarga. Sebab, sudah tidak ada pekerjaan lain lagi” paparnya.

Penambang lain, Adi Wiyono (40) menambahkan bahwa mereka tidak paham jika menambang harus menggurus perijinan.

“Kami sudah menambang di sini puluhan tahun lamanya. Memang selama ini kami
sering kejar-kejaran dengan petugas. Bahkan belum lama ini peralatan tambang milik kami disita petugas” ungkap Adi.
Menanggapi pengakuan dari para penambang, Sukaryono kembali menegaskan agar mereka segera mengajukan ijin ke Pemkab.

“Jadi tidak perlu ada kejar-kejaran lagi kalau para penambang sudah mengantongi ijin resmi” pungkas Sukaryono. (leo)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar